Sejarah Singkat Palang Merah Indonesia Kabupaten Karanganyar
4.jpg

Sebagai Pegawai DKR Kab. Karanganyar yang tadinya di bawah Swape Praja MANGKUNEGARAN dan setelah Surakarta menjadi Karesidenan, DKR KAB. KARANGANYAR tahun 1946 masuk ke DKR KARESIDENAN SURAKARTA oleh Dr. Sartono saya diangkat menjadi Koordinator Kab. Karanganyar dengan tugas administrasi, obat-obatan dll. Tanpa kantor dan alat-alat.

    29 Desember 1948 :

Dimulainya, agresi Belanda (Clash II) di daerah Surakarta.

Saya dan keluarga mengungsi di daerah JUMANTONO (Kal. Blorong) tetapi oleh PMKT diangkat sebagai Staf Kesehatan dan oleh PMKB diangkat menjadi KEP. KESEHATAN KAB. KARANGANYAR sewaktu bentrokan dan masa transisi sebelumnya diangkat Dokter Kabupaten karena di daerah Karanganyar bermukim Kesatuan-Kesatuan “Diponegoro”. Pulanggeni BPRI, Alap 2 , Tengkorak, TP, dan AURI “Pak Wirya” obat-obatan persediaan DKR, maka obat-obatan peresediaan kami tinggal sedikit sekali, sehinggga timbul inisiatif mengirim pembanatu kami, Bp. Atmopawiro masuk kota Solo, menemui Dr. Sartono untuk meminta obat-obatan, dengan menyamar sebagai orang jual duren. Oleh karena itu kami menerima obat-obatan (luar, dalam dansuntikan) dan surat petunjuk, supaya bertemu dengan Dr. RT Padmonegoro, Pimpinan PMI Daerah Surakarta. 

              27 Maret 1949 :

Setelah berdiskusi dengan Bp. Bupati dan Komandan PMKB (Bp. Salim Hardjohantoro dan Walikota Suharso) di tempat pengungsian, untuk meminta persetujuannya masuk Kota Solo, kami berangkat bersama istri dan anak umur 1 tahun naik andong ke Solo. Di Jembatan Bengawan Solo oleh serdadu-serdadu KNIL distop, tapi saya mengatakan mau bertemu Kaptennya Belanda, lalu saya katakan dengan berbahasa Belanda bahwa akan mengantarkan istri yang akan melahirkan di Rumah Sakit, oleh Kapten dipersilahkan terus saja naik (biasanya orang-orang harus turun dari andong dan berjalan melalui jembatan) maka selamatlah kami sekeluarga datang di Solo, bertemu Bapak dan Ibu tercinta, kemudian mengatur pemerikksaan di RS. Jebres dan tempat bermukim pada keluarga yang rumahnya dekat Rumah Sakit untuk persiapan melahirkan.

Pada tanggal 27 Maret 1949 saya menghadap Bp. Dr. Padmonagoro di Kp. Gading. Beliau sangat setuju dengan ide kami mendirikan POS PMI di Karanganyar dan membuat Surat Keterangan No. 119/A/PMI.

Kembali di Karanganyar kami lapor ke Pemerintah RI dan mencari tempat untuk POS PMI yang dapat diperoleh dari Keluarga R. Soeripto yang dengan sukarela menyerahkan rumah bagian depan seluruhnya untuk BP PMItempat perawatan bagi yang harus dirawat dandiobati beberapa hari dan asrama bagi tenaga-tenaga sukarela PMI yang tiap hari membantu kami dalam hal pengobatan dan pengangkutan orang sakit per draagbaar (usungan orang sakit) kebanyakan korban kannonage dari Belanda dan kecelakaan biasa. Keluarga Soeripto almarhum juga membantu pangan sehari-hari kepada personil PMI karena jatah dari PMKT dan PMKB tiap bulan hanya 10kg beras masing-masing dan uang Rp. 100,-

Pengalaman dalam POS PMI tersebut (Kunden Jungke) antara lain :

1.     Tiap pagi menerima orang sakit, diperiksa dan diobati.

2.     Yang perlu mondok (dirawat) beberapa hari ada, asal makannya dikirim dari rumah sendiri (misalnya orang kna peluru harus diambil dan dirawat, yang lukanya besar dan sakit orang lain).

3.     Untuk membantu orang sakit (pasien) dari sebelah Utara Karanganyar diadakan BYPOS di Cetek Melek Kal. Delingan dan di selatan BYPOS Karten (Kal. Jantiharjo) masing-masing dipimpin oleh seorang perawat : Bp. Dadyono dan Bp. S.Juwono.

4.     Sebagai Pos bantuan bantuan orang sakit, POS PMI juga menjalankan tugas sosial, ternyata ada operasi Belanda Pos PMI untuk mengungsi penduduk.

5.         Begitu mendengar ada korban, kirim regu PPPK ke tempat.

6.     Memberikan pakaian bekas (pantas pakai) kepada penduduk yang perlu ditolong dan kain kafan bagi yang meninggal dunia.

7.     Kalau ada yang meninggal dunia untuk dikubur, terutama kalalu harus melewati Markas atau penjagaan Belanda, 2 orang Anggota PMI mengawal dengan bendera PMII di depan, waktu menggali liang lahat dijaga oleh anggota PMI dengan mengibarkan bendera PMI.

PMI memberikan kesempatan bagi orang-orang yang perlu dikirm ke Rumah Sakit Solo. Untuk ini telah diorganisir adanya andong-andong yang siap membantu gratis  1.    Maka oleh Pos PMI kusir-kusir diberi Tanda Anggota PMI + Bendera PMI. Maka kalau ada Tenaga Sukarela PMI yang bertugas ke Solo, mengambil obat, peralatan, dll. Bisa menggunakan andong gratis.

2.     POS PMI Karanganyar merangkap sebagai Kantor Pos Darurat : menerima surat-surat dari Solo dan daerah pendudukan Belanda lainnya dan mengirim surat dari orang-orang Daerah RI ke kota lain-lain.

3.     Dari PMKT dan PMKB kami ditugaskan untuk mempersiapkan rencana penerimaan penyerahan Belanda kepada RI Diconsigneer di Matesih bersama Bupati dan Wedana (termasuk Bp. Indriyo yang pada waktu itu Wedana Jumapolo dan Bp. Dartopranoto Wedana Karangpandan).   

4.     Pada waktu penyembelihan oleh Baret Hijau (Belanda) kebetulan saya di Solo, maka ikut mengusung jenazah-jenazah ke pekarangan Dr. Padmonegoro dan malamnya juga menunggu orang-orang yang kena peluru berkat keganasan “Baret Hijau”, setelah sorenya membantu “operasi” luka-luka lainnya.